
Tuhan (Katanya) Telah "Mati", dan Kita Sibuk Menguburnya Hidup-hidup
Kita lantang berteriak membela agama di jalanan, tapi lupa menghadirkan Tuhan saat merusak alam, menebar asap, atau merancang tipu daya berkedok pro-rakyat. Jangan-jangan, di dalam tindakan kita sendiri, eksistensi Tuhan memang sudah tak bersisa?
Cover image by Gemini AI
Waktu filsuf Friedrich Nietzsche bilang "Tuhan telah mati," banyak orang beragama yang langsung panas telinganya. Kalimat itu sering dianggap sebagai deklarasi ateisme yang arogan. Padahal, kalau kita mau sedikit merenung sambil ngaca. Kalimat itu sebenarnya adalah tamparan yang sangat keras, sebuah metafora tragis tentang kita sendiri, orang-orang yang mengaku beragama.
Coba deh kita jujur sama diri sendiri. Kita hidup di Indonesia, negara yang dengan gagahnya menaruh "Ketuhanan Yang Maha Esa" di urutan paling atas sebagai fondasi berbangsa. KTP kita ada kolom agamanya. Tempat ibadah berdiri megah di mana-mana. Ritual ibadah jalan terus. Tapi, coba rasakan apa yang terjadi dalam keseharian kita.Tuhan seolah cuma eksis di dalam masjid, gereja, pura, atau vihara. Begitu kita melangkah keluar dari pintu tempat ibadah, Tuhan ditinggal di dalam. Kita menjalani hidup, mengejar harta, dan mencari kekuasaan seolah-olah Dia tidak pernah melihat apa-apa.
Lihat saja langit yang belakangan ini sering tertutup asap pekat. Hutan-hutan dibakar secara masif cuma demi mengamankan kepentingan dan cuan segelintir orang. Alam yang seharusnya dijaga sebagai amanah dari Sang Pencipta, malah dirusak habis-habisan tanpa ada rasa bersalah. Di mana Tuhan saat korek api itu dinyalakan dan alat berat meratakan pepohonan? Dia diabaikan. Kita bertingkah seolah Tuhan sama sekali tidak peduli pada ciptaan-Nya yang hangus terbakar.
Belum lagi kalau kita ngobrolin soal kekuasaan. Berapa banyak janji manis dan manuver politik yang dilempar ke publik, diramu sedemikian rupa agar terlihat seolah-olah paling memihak rakyat? Di balik meja, aturan diakali, hak orang banyak disunat demi oligarki. Semua dilakukan sambil tersenyum ke arah kamera, bahkan kadang sambil menyitir dalil suci. Kalau orang-orang ini di kedalaman batinnya benar-benar merasa Tuhan itu ada dan Maha Mengawasi, berani nggak mereka menipu jutaan manusia dengan setenang itu?
Ini adalah otokritik buat kita semua, khususnya yang sedang sama-sama belajar taat. Dosa demi dosa sering kita lakukan dengan entengnya, seolah itu cuma rutinitas wajar. Kita menormalisasi kebohongan kecil, ketidakpedulian, dan keserakahan. Kita gampang sekali marah kalau nama Tuhan dilecehkan secara verbal, tapi kita sendiri melecehkan eksistensi-Nya setiap kali kita berbuat zalim dan merasa aman dari balasan-Nya. Mungkin itu yang dimaksud Nietzsche dengan matinya Tuhan. Tuhan tidak mati karena Dia tidak ada. Tuhan "mati" karena kita sendiri yang membunuh peran-Nya dalam denyut nadi kehidupan kita sehari-hari. Kita mengubur-Nya lewat sikap apatis kita, lewat korupsi-korupsi kecil, lewat pohon-pohon yang kita biarkan terbakar, dan lewat ego kita yang tak pernah puas.
Kalau kita terus-terusan hidup dengan mentalitas seperti ini, sekadar menempelkan identitas agama tanpa pernah benar-benar takut pada Yang Punya Kehidupan, lantas apa bedanya kita dengan mereka yang sejak awal tak percaya Tuhan? Mari kita renungkan lagi: di luar urusan alam dan pemerintah, bagian mana dari rutinitas harian kita yang paling sering, tanpa sadar, ikut "membunuh" eksistensi Tuhan?